Tampilkan postingan dengan label kumpulan tugas kuliah smt IV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan tugas kuliah smt IV. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

LINGUISTIK TERAPAN



Linguistik Terapan dan Evaluasi Pengajaran Bahasa
Di Susun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Linguistik Terapan
Oleh
Kelompok VI
MUSLIMAH                                                                   INDRAWATI SULEMAN
FITRIA RANRENG                                                        RAMLI S. ENGKE
SUTRI UNON OBE                                                        MOH. AGUS
Kelas D Semester VI









JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2012
Linguistik Terapan dan Evaluasi Pengajaran Bahasa
Linguistik Terapan Dan Pembelajaran Bahasa Mengenai kaitan linguistik terapan dan pengajaran bahasa, Soenardji menjelaskan sebagai berikut: Analisis ilmiah atas berbagai gejala yang terumuskan menjadi kaidah fonologik, morfologik dan sintaktis diproses menjadi bahan ajar dalam pengajaran bahasa. Hasil pembahasan akademik dan hasil penelitian yang punya bobot teoritik kebahasaan ditransfer menjadi dalil-dalil pemandu pemakaian bahasa yang baik dan benar melalui kegiatan pendidikan bahasa. Kalau kita umpamakan linguistik dan pengajaran sebagai dua kutub, maka antara dua kutub itu perlu adanya penyambung yang dapat melayani keduanya dengan sebaik-baiknya. Sarana pelayanan itu adalah suatu disiplin baru yang disebut linguistik terapan. Bagi kepentingan pengajaran bahasa linguistik terapan tersebut memusatkan perhatiannya pada:
1. Butir-butir teoritik yang mempunyai keabsahan kuat dalam linguistik, dan
2. Berbagai kemungkinan dan alternatif untuk memandu pelaksanaan pengajaran bahasa. Kemungkinan dan alternatif itu diupayakan agar seiring dan sejalan dengan butir teoritik dalam linguistik.
Secara lebih transparan, Ramelan menjelaskan tentang kegunaan linguistik terhadap pengajaran bahasa, antara lain:

1. Memberi pijakan tentang prinsip-prinsip pengajaran bahasa asing, termasuk didalamnya pendekatan, metode dan teknik.
2. Memberi arahan atau pijakan mengenai isi/materi bahasa yang akan diajarkan yang didasarkan pada diskripsi bahasa yang mendetail, termasuk cara mempresentasikan.
Selanjutnya Ramelan menyatakan, jika para linguis struktural percaya akan sumbangan linguistik terhadap pengajaran bahasa, maka linguis transformsional tidak pernah mengklaim demikian. Menurut yang terakhir, linguistik adalah suatu ilmu yang otonom, yang mencoba mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia tanpa mempertimbangkan kemungkinan teori mereka tentang bahasa dapat diterapkan pada pengajaran bahasa. Ini mungkin tidak dapat dilepaskan dari sikap Chomsky sendiri (tokoh transformasional), bahkan dia pernah menyatakan dalam suatu konferensi guru-guru bahasa, bahwa seorang linguis tidak pernah bermaksud menyibukkan dirinya dalam persoalan-persoalan pengajaran bahasa (linguists never intended to address themselves to thee problem of teaching a language) Meskipun demikian, banyak penganut tranformasional yang percaya bahwa aspek kreatif bahasa yang ada pada diri seseorang (salah satu tinjauan aliran ini) dapat diterapkan pada pengajaran bahasa, misalnya dengan melatih siswa untuk menciptakan dan menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang sedang mereka pelajari.
Sementara kesepakatan linguis struktural tentang peranan linguistik terhadap pengajaran bahasa, juga tidak terlepas dari sikap Bloomfield. Disamping dia seorang linguis, dia juga seorang yang ahli di bidang pengajaran bahasa. Hal ini ditunjukkan dari perhatiannya yang besar terhadap pengajaran bahasa-bahasa modern. Bahkan dia sangat mengkritik penggunaan metode tata bahasa terjemahan (grammar-translation method). Menurutnya tujuan utama pengajaran bahasa asing harus didasarkan pada penguasaan oral bahasa tersebut. Dari sini lahir suatu pendekatan yang terkenal dengan “Oral-Aural Approach”

HAKIKAT EVALUASI PEMBELAJARAN
Kegiatan Belajar
1.     Pengertian Tes, Pengukuran, dan Penilaian Kegiatan belajar ini memberi pengertian yang tepat mengenai tes, pengukuran, dan penilaian, sehingga pemakaian istilah yang salah kaprah dapat Anda perbaiki. Pelaksanaan pengukuran dan penilaian sejak awal perkembangan kebudayaan manusia sudah terjadi, namun pengembangan alat ukur (tes) yang layak dipercaya belum terjadi sebelum abad kedua puluh. Pengembangan alat ukur harus didasarkan pada tujuan pembelajaran, dan tujuan pembelajaran tidak lepas dari tujuan pendidikan nasional.
Alat ukur, pengukuran, dan penilaian yang dikembangkan dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan pembelajaran akan berdampak pada pemberian bantuan yang tepat kepada peserta didik dalam rangka meningkatkan kualitas Manusia Indonesia
Kegiatan Belajar
2.      Pengelompokan Alat Ukur  Kegiatan belajar kedua ini membicarakan alat ukur yang digunakan dalam penilaian yaitu alat ukur tes dan non-tes. Pengelompokan tes didasarkan pada jawaban yang diharapkan yaitu mulai dari jawaban yang tertutup sampai dengan jawaban yang terbuka. Atas dasar pengelompokan tersebut dalam pendidikan dikenal tes objektif, tes jawaban singkat, tes penyelesaian masalah, dan tes uraian. Masing-masing bentuk tes ini memiliki ragam. Untuk tes objektif pilihan ganda ragamnya adalah 5 yaitu melengkapi pilihan, hubungan sebab akibat, analisis kasus, melengkapi kompleks (berganda) dan membaca gambar/grafik/tabel/diagram. Sedangkan tes uraian ragamnya uraian terbatas/terpimpin/ tertutup dan uraian terbuka. Bentuk yang di sebutkan di ataslah yang banyak digunakan di sekolah untuk mengukur kemampuan berpikir.
Alat ukur untuk menentukan kemampuan dalam ranah afektif dan psikomotor digunakan format observasi, angket, dan wawancara. Format observasi sangat banyak ragamnya, masing-masing disesuaikan dengan tujuan observasi, waktu yang tersedia dan tersedianya pelaksana (SDM) yang sesuai. Kualitas hasil penilaian tergantung pada prosedur pemilihan yang ditempuh, teknik pelaksanaan yang dipilih dan pendekatan penilaian yang digunakan.
A. Hakikat Evaluasi
1. Evaluasi di sini terdiri atas:

Evaluasi adalah : memberikan penilaian yang bersifat kualitatif.
Pengukuran      : proses untuk mendapatkan pemerian kuantitatif,
yaitu mengenal tinggi rendahnya taraf pencapaian
hasil seseorang dalam suatu perilaku tertentu.
Tes      : salah satu jenis ukur
2. prinsip umum evaluasi

Adapun prinsip-prinsip tersebut dipaparkan pada-bagiannya yaitu perlu disadari bahwa dalam proses belajar-mengajar, tujuan utama evaluasi ialah memperbaiki dan/atau meningkatkan hasil belajar. Karena itu dalam proess evaluasi, langkah yang pertama ialah menentukan serta menjelaskan tujuannya, yaitu dengan memberikan basil belajar yang akan diukur. Perlu ditambahkan bahwa pemerian itu hendaknya dilakukan secara rinci.
B. Alat-alat Evaluasi dalam Pengajaran

1. Tes Menyimak
Tes menyimak yang dimaksud dapat dilihat dari contoh di bawah ini:
Kemampuan menyimak bersifat reseptif; siswa memahami pesan yang dikomunikasikan secara lisan. Kemampuan ini pada dasarnya lebih bersifat kognitif. Pada jenjang yang lebih tinggi dapat dideskripsikan sebagai kemampuan “menganalisis suatu pesan yang disampaikan secara lisan”, “menyimpulkan sejumlah pesan yang dikomunikasikan melalui rekaman.”
2.    Tes Berbicara
Conto wacana dalam tes berbicara yaitu… Keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks, yang tidak hanya mencakup persoalan ucapan/lafal dan intonasi. Berbicara di dalam bahasa apa pun selalu menyangkut pemakaian ungkapan ‘idiom’ serta berbagai unsur bahasa dan nonbahasa. Karena itu evaluasi keterampilan ini seringkali menimbulkan kesulitan bagi guru. Aspek-aspek yang dinilai melalui tes berbicara mencakup ketepatan lafal, kejelasan ucapan, kelancaran, dan intonasi.
3.    Tes Membaca

Contoh tes membaca dapat dilihat pada wacana berikut…
Sesuai dengan pengajaran membaca di SD, dalam hal ini tes membaca dibedakan sebagai tes membaca permulaan dan tes membaca pemahaman/lanjut. Tes membaca permulaan diadakan untuk mendapatkan informasi tentang kemampuan siswa dalam mengenal dan menyuarakan lambang-lambang bunyi dalam hubungan kalimat dengan intonasi yang wajar. Untuk memberikan nilai dapat digunakan pedoman penilaian seperti untuk kemampuann berbicara, dengan aspek-aspek yang dinilai: lafal, frasing, kelancaran, perhatian terhadap tanda baca, dan intonasi. Tes ini bersifat individual
4.    tes kosakata

Tes ini diadakan untuk mendapatkan informasi tentang penguasaan kosakata siswa. Tes ini kerap kali dikaitkan dengan kemampuan membaca (memahami makna kata dalam konteks kalimat/wacana) dan menulis (menggunakan kata sesuai dengan asas ketepatan dan kesesuaian). Berikut ini dikemukakan beberapa tes yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam kosakata.

a. Prosedur Kelas

Tes ini juga dapat digunakan untuk mengatahui penguasaan kosakata siswa.

b. Melengkapi Kalimat
Tes ini dapat dilakukan secara lisan atau tertulis. Siswa diminta melengkapi kalimat dengan kata yang tepat. Dalam hal ini tes pilihan ganda akan lebih memudahkan penilaian.
c. Menamai Gambar Kepada siswa diberikan gambar yang mencakup sejumlah objek. Siswa diminta memberi nama objek-objek tersebut.
d . Antonim
Kepada siswa diberikan sejumlah kata. Mereka harus memilih antonimnya. Bentuk tes dapat berupa pilihan ganda atau menjodohkan.

e. Padanan Data dalam Bahasa Ibu
Tes ini tentunya hanya dapat dilakukan kepada kelompok yang mempunyai bahasa ibu yang sama (di daerah). Kepada mereka diberikan sejumlah kata dalam bahasa daerah dan mereka harus menyebutkan (lisan, individual) atau menuliskan (tertulis, klasikal) padanannya dalam bahasa Indonesia.
5.    tes struktur Untuk mengevaluasi kemampuan siswa, dalam hal struktur, dapat digunakan berbagai cara dan bentuk tes yaitu….
a. Mengubah Pola Kalimat
Kepada siswa diberikan kalimat dalam pola tertentu dan siswa diminta mengubahnya ke dalam pola lain. Misalnya, dari kalimat berita diubah menjadi beberapa jenis kalimat tanya, atau kalimat perintah, permintaan, harapan, bentuk pasif dan sebagainya. Dalam hal ini bentuk tes yang sering digunakan ialah pilihan ganda atau esei terbatas.
b. Menggunakan Kata
Tugas Siswa diminta untuk melengkapi kalimat dengan kata tugas yang tepat.
c. Menggunakan Kata Ganti
Kepada siswa diberikan kalimat-kalimat yang menyatakan hubungan kepunyaan. Siswa diminta mengubah atau melengkapi dengan menggunakan kata ganti kepunyaan -ku -mu, dan -nya.
6.  tes menulis
Tes menulis di sini dapat dibagi atas beberapa bentuk dalam penilaian yaitu….
a. Penguasaan Lambang Bunyi
Untuk mengetahui penguasaan siswa mengenai lambang bunyi. Guru mengungkapkan kalimat sederhana/pendek yang mengandung bunyi yang lambangnya telah diajarkan dengan tingkat kecepatan rendah. Pengucapan dilakukan dua atau tiga kali. Siswa diminta menuliskannya pada kertas lembar jawaban. Secara teknis, ini dapat dilaksanakan sebagai jumlah kata-kata lepas, jumlah dalam konteks kalimat, dan jumlah penuh.
b. Penguasaan Ejaan dart Tanda Baca Sama halnya dengan evaluasi tentang penguasaan lambang bunyi, evaluasi tentang tanda baca tidak dapat dilepaskan dari pemahamannya dalam kalimat atau paragraf. Untuk mengetahui penguasaan siswa dalam hal ini, dapat digunakan teknik jumlah, pilihan ganda, atau perbaikan ejaan yang salah.
c.  Kemampuan Memilih Kata
Tes dalam hal ini sebenarnya merupakan semacam tes kosakata. Tetapi, di sini yang ditekankan ialah bukan pengertian siswa tentang makna kata, melainkan kemampuan siswa dalam menggunakan/memilih kata secara tepat. Dalam konteks kalimat, siswa diminta melengkapi kalimat dengan kata yang tepat. Dalam konteks yang lebih besar (paragraf) siswa diminta mengisi kata-kata yang dihilangkan.
d. Kemampuan Mengarang sebagai Sarana Komunikasi Seperti telah diketahui, kemampuan mengarang merupakan kemampuan yang kompleks. Untuk mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal ini dapat digunakan beberapa cara. Di sini hanya akan dibicarakan beberapa cara yang cocok untuk diterapkan di SD.
DAFTAR RUJUKAN
Alwasilah, A.Chaedar. 1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa Bandung
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Verharr, J.W.M. 2008. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Senin, 14 Mei 2012

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia


SASARAN UMUM PEMBINAAN BAHASA INDONESIA
Di Susun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Indonesia

Oleh kelompok IV
MUSLIMAH
SRI ASMAWATI DARISE
Kelas C Semester IV













JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2012



 KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT karena hanya dengan qudrat dan iradat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktumya. Shalawat beserta salam tak hentinya tercurah kepada nabi Muhammad S.A.W yang telah membawa kita menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Semoga syafaatnya sampai kepada kita hingga yaumil akhir nanti.
           Sebagai penyusun, kami merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca untuk dijadikan acuan dalam penyusunan makalah dimasa yang akan datang. Seperti kata pepatah, ” Tidak ada gading yang tidak retak” yakni tidak ada manusia yang sempurna.
Tak lupa pula kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Tanpa partisipasi dari teman sekalian tentunya penyelesaian makalah ini tidak dapat terselesesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu proses belajar mengajar di dalam maupun di luar kelas. Amin.......Ya Rabbal Alamin.
Wassalamualaikum Wr.Wb



Gorontalo,  Mei 2012
   
           `                                                                                       Penyusun

 


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar belakang
Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural dan sekaligus juga multilingual. Hal ini berarti bahwa setiap suku atau kelompok etnik mempunyai tradisi dan kebudayaan sendiri, termasuk keanekaan bahasanya. Bahasa-bahasa kelompok etnik tersebut, atau lebih dikenal sebagai bahasa daerah, selain dituturkan dan didukung oleh jumlah kelompok penutur yang sangat variatif, juga memiliki wilayah yang tersebar luas. Tersebarnya bahasa daerah tertentu ke wilayah lain di Nusantara tentunya memungkinkan terjadinya persaingan antarbahasa daerah tersebut.
 Hal ini perlu disikapi secara serius oleh para pengambil kebijakan, dalam hal ini pemerintah. Kalau dibiarkan pergesekan antarbahasa daerah tersebut, dikhawatirkan akan menjadi pemicu disintegrasi bangsa. Apalagi wilayah Indonesia memiliki banyak pulau dan memiliki banyak ragam budaya, hal ini tentunya akan berimbas kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mempersatukan bangsa yang berbeda-beda budaya, salah satunya adalah dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu bangsa. Sampai saat ini, bahasa Indonesia belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi, karena bahasa Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-sama dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara dalam mengembangkan dan melancarkan berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan. Hal ini pulalah yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai sarana pertahanan bangsa.
Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural dan sekaligus juga multilingual. Hal ini berarti bahwa setiap suku atau kelompok etnik mempunyai tradisi dan kebudayaan sendiri, termasuk keanekaan bahasanya. Bahasa-bahasa kelompok etnik tersebut, atau lebih dikenal sebagai bahasa daerah, selain dituturkan dan didukung oleh jumlah kelompok penutur yang sangat variatif, juga memiliki wilayah yang tersebar luas. Tersebarnya bahasa daerah tertentu ke wilayah lain di Nusantara tentunya memungkinkan terjadinya persaingan antarbahasa daerah tersebut. Hal ini perlu disikapi secara serius oleh para pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah. Kalau dibiarkan pergesekan antarbahasa daerah tersebut, dikhawatirkan akan menjadi pemicu disintegrasi bangsa. Apalagi wilayah Indonesia memiliki banyak pulau dan memiliki banyak ragam budaya, hal ini tentunya akan berimbas kepada persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mempersatukan bangsa yang berbeda-beda budaya, salah satunya adalah dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.

1.2   Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1.     Bagaimana sasaran umum pembinaan  bahasa Indonesia?

1.3 Tujuan penulisan
Untuk mengetahui sasaran umum pembinaan  bahasa Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sasaran umum pembinaan bahasa Indonesia
            Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulau pula yang secara geografis terpisahkan oleh laut memungkinkan terjadinya perubahanperubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Di dalam hasil rumusan Seminar Politik Bahasa Nasional (1999) disebutkan bahwa yang dimaksud pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa. Usaha-usaha pembinaan ini mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa. Usaha pembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan. Sedangkan, yang dimaksud dengan pengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa agar keperluan masyarakat terpenuhi
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam  pembinaan Bahasa Indonesia adalah tujuan, siswa, lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat  dan Sarana kurikulum, guru, metode,alat pengajaran dan evaluasi Tujuan maksudnya adalah tujuan pengajaran harus mencakup tiga asfek yaitu : pemahaman,keterampilan dan sikap. Secara operasional rumusan tujuan harus dapat dievaluasi sehingga dapat diketahui tujuan berhasil atau tidak. Murid adalah murid sebagai subjek didik harus diperhatikan, karena bagi murid yang baru pandai berbahasa Indonesia akan mempengaruhi stategi pembelajaran di kelas. Bagi murid yang sudah mahir berbahasa Indonesia maka guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar dan cepat dapat dipahami murid. Lingkungan maksudnya lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sangat mempengaruhi.
Pengajaran Bahasa Indonesia yang akan mengajarkan anak terampil dan mahir berbahasa Indonesia harus diartikan sebagai berikut:
  1. Mengenalkan ciri-ciri berbagai bahasa Indonesia dan membangkitkan Bahasa Indonesia baku maupun non baku.
  2. Mengenalkan ciri-ciri fungsi berbagai variasi bahasa Indonesia sehingga pengajaran bahasa Indonesia lebih relevan untuk anak didik
  3. Mengajar menggunakan bahasa Indonesia yang tepat untuk fungsi yang tepat.
Komponen- komponen yang mempengaruhi keberhasilan pembinaan bahasa Indonesia  adalah sbb:
  1. Masyarakat Indonesia yang akan dibina.
  2. Proses pembinaan.
  3. Hasil pembinaan
  4. Perangkat alat pembinaan.
  5. Keadaan masyarakat.
Kelima komponen diatas saling berhubungan satu dengan yang lainnya, jadi apabila ada satu komponen Yang lemah maka akan mengganggu pencapaian tujuan. Komponen sasaran pembinaan adalah:
  1. Murid mampu mengungkapkan pikiran \pendapat dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Murid mampu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya.
  3. Murid bangga berbahasa Inonesia di lingkungan rumah maupun sekolah.
  4. Guru dan murid saling membudayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Ø  Lingkungan
Sasaran lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, sangat berpengaruh terhadap pembinaan pembelajaran bahasa indonesia. Oleh karena ketiga lingkungan itu dapat menunjang untuk pembinaan bahasa indonesia.
Keluarga subjek didik dikatakan untuk menunjang karena pada keluarga itu selalu mendorong subjek didik untuk belajar lebih giat. Setidaknya anggota keluarga menjadi cerminan bagi subjek didik untuk menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Disamping itu, hendaknya diciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga untuk belajar dan menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Misalnya, di dalam anggota keluarga disediakan majalah atau koran yang tergolong baik bahasa indonesianya.

Sekolah pun demikian juga, karena rasanya akan percuma saja diselenggarakan pengajaran bahasa indonesia apabila lingkungan sekolah atau pelajaran diluar bahasa indonesianacuh tak acuh terhadap pemakaian bahasa indonesia. Oleh karena itu, sekolah hendaknya menciptaka kondisi yang dapat menunjang pengajaran bahasa indonesia misalnya, mengadakan penerbitan majalah,baik majalah tulis maupun majalah dinding, guru menggunakan bahasa yang benar sewaktu memberikan bimbingan kepada murid- muridnya, mengadakan latihan diskusi, pidato, baca puisi, dan drama

Masyarakat, tempat murid bergaul diluar keluarga dan sekolah pun harus menunjang suksesnya pengajaran bahasa indonesia. Terutama dalam pembinaan dilingkungan masyarkat yang tidak saja berfungsi sebagai komunikasi tetapi yang lebih penting lagi adalah bahasa indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Sasaran utama yang harus dilakukan adalah terlebih pembinaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarkat pada umumnya.
Kesadaran itu harus dimiliki jiwa masyarakat indonesia. Oleh karena itu, program pembinaannya harus terperinci dan jelas
1.     Tenaga pembinanya harus memiliki kemampuan berbahasa indonesia dan menjalankan fungsinya dengan baik
2.     Sarana yang ada untuk menunjang kelancaran pembinaan bahasa indonesia
Untuk memenuhi sasaran dan kelancaran pembinaan bahasa indonesia maka kondisi lingkungan masyarakat harus diperhatikan terutama kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarkat. Hal ini dilakukan untuk dijadikan sebagai titik pangkal pelaksanaan pembinaan bahasa indonesia.

Selain itu itu sasaran pembinaan bahasa indonesia yang diutamakan dalam pemakaian bahasa indonesia  dalam rangka bagaimana pembinaan bahasa indonesia yang diharuskan untuk memakai bahasa indonesia yang baik dan benar dan menggunakannya sesuai kedudukan dan fungsinya.  
                                 
 
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan  
Proses pembinaan bahasa Indonesia di Sekolah  bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi merupakan suatu masalah yang harus kita benahi khusus bagi guru- guru dan masyarakat pada umumnya.
Ada beberapa komponen yang berperan dalam proses pembinaan bahasa Indonesia di lingkungan sekolah antara lain:  tujuan,murid, lingkungan,{meliputi lingkungan keluarga,sekolah,masyarakat} dan sarana {meliputi: kurikulum, guru, metode, alat pembelajaran dan alat evaluasi } Dalam proses pembinaan bahasa Indonesia di lingkungan sekolah kita juga harus tahu
Faktor- faktor penunjang keberhasilan pembinaan bahasa Indonesia dilingkungan Adalah sebagai berikut :1 siswa yang dibina. 2. proses pembinaan. 3. hasil pembinaan . 4. Perangkat alat pembinaan . 5. keadaan siswa yang akan dibina baik latar belakang keluarga maupun sosial ekonominya.
Usaha- usaha yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah proses pembinaan  bahasa Indonesia di lingkungan Sekolah :
  1. Pembinaan bahasa Indonesia dalam pelajaran Bahasa Indonesia,
  2. Pembinaan bahasa Indonesia pada mata pelajaran lainnya.
  3. Membiasakan / membudayakan berbahasa Indonesia dilingkungan sekolah.
  4. Menumbuhkan rasa cinta tanah air dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.



3.2  Saran- saran
Dari hasil pembahasan dalam makalah ini ada beberapa hal yang dapat disarankan oleh penulis :
  1. agar guru bahasa Indonesia khususnya dan semua guru pada umumnya dapat membina proses penggunaan bahasa Indonesia dilingkungan  sehingga bahasa bahasa Indonesia dapat disesuaikan dengan fungsinya sebagai bahasa pengantar dilembaga pendidikan formal .
  2. Guru sebagai faktor yang mempengaruhi proses pembinaan bahasa Indonesia dilingkungan agar dapat menjalankan fungsi bahasa itu sebagai alat komonikasi dalam proses belajar dan mengajar. Terakhir guru guru dapat menanggulangi atau mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dalam proses pembinaan bahasa Indonesia.
                                                          
DAFTAR PUSTAKA

Muslich, Mansur. 2010. Bahasa Indonesia Pada Globalisasi: Kedudukan, Fungsi, Pembinaan dan Pengembangan.  Jakarta: Bumi  Aksara